• Step 2. Inventarisasi Tegakan Sebelum Penebangan ( ITSP )
Tahap2-1(317)
PENANDAAN JALUR LINDUNG DAN POHON INDUK
Tahap2-2
2. Penandaan Pohon Induk Sesuai dengan sistim silvikultur hutan payau, penebangan harus meninggalkan pohon induk sebanyak       40 (empat puluh) pohon/ ha, tersebar merata, dengan tujuan agar supaya ada jaminan terjadinya permudaan alam secara alami.     Agar tidak terjadi salah tebang, maka 1 (satu) tahun sebelum penebangan, pohon yang ditunjuk sebagai pohon induk diberi             tanda dengan cara melingkarkan ( misalnya: pita plastik warna kuning ) atau warna yang mudah terlihat selebar ± 2,0 cm yang       tersebat merata. Bilamana pohon induk yang sudah diberi tanda, tumbang atau rusak akibat tertimpa pohon yang ditebang             maka akan diganti dengan pohon yang ada di dekatnya. Diameter pohon induk yang ditinggalkan adalah lebih kurang 20 cm ke       atas dan atau berdiameter yang sudah cukup umur untuk menghasilkan buah (seed). Dilaksanakan 1 tahun sebelum                     penebangan

Inventarisasi hutan adalah kegiatan pencatatan, pengukuran dan penandaan pohon dalam luas tertentu, dengan tujuan untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang jumlah, jenis dan volume pohon yang akan ditebang serta keadaan lapangan, khususnya keadaan sungai/alur air pasung surut, yang dinyatakan dengan angka-angka dan keterangan yang ringkas. Keadaan sungai/alur air pasang surut sebagai sarana transportasi digambarkan dalam peta. Metode dan besarnya intensitas sampling untuk penyusunan RKT mengacu pada Sistim Silvikultur Hutan Payau (Seed Trees Method) sesuai dengan SK Dirjen Kehutanan No. 60/Kpts/DJ/I/1978 tanggal 8 Mei 1978, yaitu Sistematik Strip Sampling, Intensitas sampling 5 %. 

  1. Penandaan jalur lindung Sesuai dengan sistim silvikultur hutan payau, penebangan hanya boleh dilakukan pada pohon-pohon yang berjarak 50 m dari tepi hutan yang menghadap ke pantai dan 10 m dari tepi hutan yang menghadap sungai/alur pasang surut, yang merupakan areal pelindung. Untuk menghindari kemungkinan salah tebang dalam jalur pelindung, maka 1 (satu) tahun sebelum kegiatan tebangan areal pelindung dibatasi dengan cara memberi cat warna merah pada pohon yang berada pada jarak 50 m dari tepi hutan yang menghadap ke pantai dan 10 dari tepi hutan yang berada kiri-kanan sungai/alur air pasang surut. Jarak antar pohon yang diberi cat merah ± 25 m dan atau seluruh pohon yang berada di areal jalur lindung

Tahap2-3


Related posts:

No Comments

Leave a Comment

You must be logged in to post a comment.