• Kondisi Sosial

A. GAMBARAN UMUM DESA

Kabupaten Kubu Raya berbatasan langsung dengan ibukota propinsi Kalimantan Barat dan sebagian besar terdiri dari wilayah pantai dan perairan. Jarak dari masing-masing ibukota Kecamatan ke ibukota Kabupaten rata-rata sekitar 15 Kilometer, kecuali Kecamatan Batu Ampar, Kecamatan Kubu dan Kecamatan Terentang yang jaraknya cukup jauh, selain itu karena belum tersedia sarana-prasarana darat yang memadai sehingga hanya bisa ditempuh melalui jalur tansportasi air.

Desa-desa yang terletak di sekitar konsesi IUPHHK PT. Kandelia Alam diantaranya desa Kubu dan desa Batu Ampar. Desa Kubu yang memiliki luas wilayah 234.08 Km2 masuk dalam pemerintahan Kecamatan Kubu, dan Desa Batu Ampar dengan luas wilayah 560.12 Km2 berada dalam pemerintahan Kecamatan Batu Ampar Kabupaten Kubu Raya.

Letak desa-desa pengamatan yang masuk dalam wilayah pemerintahan Kecamatan Kubu dan Kecamatan Batu Ampar, masing–masing memiliki batas wilayah desa di sekitar wilayah pemerintahan masing-masing. Berdasarkan informasi dari aparat desa dan tokoh masyarakat di masing-masing desa pengamatan, disebutkan bahwa batas-batas desanya pada posisi bersebelahan dengan batas wilayah sebagaimana terangkum pada tabel III-1.

 

Batas Wilayah Desa-Desa di Sekitar Areal Kerja Perusahaan

 Posisi Batas Batas Wilayah Desa
Kubu Batu Ampar
Utara Teluk Nangka/Olak-olak Teluk Nibung
Timur Kecamatan Terentang Tanjung Beringin
Selatan Padang Tikar/Batu Ampar Kab.Kayong Utara
Barat Dabong Teluk Nuri

Sumber : Aparat Desa dan Tokoh Masyarakat, 2013

Topografi desa-desa pengamatan relatif datar dan landai.  Letak posisi pemukiman berada di sepanjang tepi Sungai dengan pola penyebaran penduduk di wilayah desa-desa pengamatan yang masuk dalam pemerintahan Kecamatan Kubu mengikuti daerah aliran sungai Kapuas hingga daratan, dan penyebaran penduduk di wilayah desa-desa yang masuk pemerintahan Kecamatan Batu Ampar Kabupaten Kubu Raya berada di wilayah perairan dan pantai.

KS-1

Aksesibilitas menuju ke desa – desa pengamatan tersebut ditempuh melalui jalur transportasi air dengan menggunakan kapal bermotor atau speed boat. Perjalanan dari Pontianak ibukota Kalimantan Barat.

KS-2

Menuju Kabupaten Kubu Raya ditempuh sekitar 45 menit perjalanan darat. Dari pelabuhan Rasau Jaya dilanjutkan melewati sungai Rasau dengan speed boat 40-PK menuju Desa Kubu selama 1 jam atau sekitar 3 jam dengan menggunakan kapal bermotor.
Bila menuju ke Desa Batu Ampar dari desa Kubu menggunakan speed boat dengan waktu tempuh 2 jam. Sarana perhubungan dan transportasi sungai lebih digunakan masyarakat untuk pergi ke lokasi bertani (padi pasang-surut) dan mencari ikan, kepiting, udang ke sungai-sungai sekitar hutan bakau maupun bagi nelayan ke laut.

 

B. KEPENDUDUKAN

1. Jumlah Kepadatan Penduduk

Kecamatan Kubu berdasarkan data statistik tahun 2013 tercatat jumlah penduduk dari 20 desa berjumlah 37.252 jiwa dari 8.714 kepala rumah tangga yang terdiri dari 18.819 laki-laki dan 18.433 perempuan dengan kepadatan penduduk 31 jiwa/Km2. Sedangkan rata-rata jumlah jiwa dalam rumah tangga 4 jiwa/RT. Kemudian di Kecamatan Batu Ampar tercatat jumlah penduduk dari 15 desa berjumlah 34.252 jiwa dari 8.116 kepala rumah tangga yang terdiri dari 17.524 laki-laki dan 16.728 perempuan dengan kepadatan penduduk 17 jiwa/Km2.  Sedangkan rata-rata jumlah jiwa dalam rumah tangga 4 jiwa/RT.  Secara rinci keadaan penduduk di Kecamatan Kubu dan Kecamatan Batu Ampar Kabupaten Kubu Rayadisajikan pada Tabel III-2.

Jumlah Dan Kepadatan Penduduk Kecamatan Kubu Dan Kecamatan Batu Ampar, Kabupaten Kubu Raya

 Uraian Kecamatan Kubu Kecamatan Batu Ampar
Jumlah Desa 20 15
Luas Wilayah (Km2) 1211.60 2002.70
Jumlah Penduduk (Jiwa) tahun 2011 37.252 34.252
Laki-laki 18.819 17.524
Perempuan 18.433 16.728
Jumlah Rumah Tangga (RT) 8.714 8.116
Anggota Rumah Tangga (Jiwa/RT) 4 4
Kepadatan Penduduk (jiwa/Km2) 30 17
Pertumbuhan Penduduk (%) 0,99 1,65

Sumber : Kecamatan Kubu dan Kecamatan Batu Ampar  dalam Angka  2013

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Kecamatan  Dalam Angka Tahun 2013 , penduduk di Desa Kubu sebanyak 1.192 kepala rumah tangga dengan rincian 2.595 laki-laki dan 2.574 perempuan atau berjumlah 5.169 jiwa, dengan kepadatan penduduk 22 jiwa/Km2.  Sedangkan Desa Batu Ampar berpenduduk 1.721 kepala rumah tangga dengan rincian 3.965 laki-laki dan 3.626 perempuan atau berjumlah 7.591 jiwa, dengan kepadatan penduduk 14 jiwa/Km2.  Rincian terhadap jumlah dan kepadatan  penduduk desa Kubu dan desa Batu Ampar di sekitar areal perusahaan sebagaimana disajikan pada tabel III-3.

Jumlah Dan Kepadatan Penduduk Desa Sekitar Areal Perusahaan

 Uraian Desa Kubu Desa Batu Ampar
Luas Wilayah (Km2)  234.08 560.12
Jumlah Penduduk (Jiwa) 5.169 7.591
Laki-laki 2.595 3.965
Perempuan 2.574 3.626
Jumlah Rumah Tangga (RT) 1.192 1.721
Anggota Rumah Tangga (Jiwa/RT) 4 4
Kepadatan Penduduk (Jiwa/Km2) 22 14

Sumber :  Kecamatan  Kubu dan Batu Ampar dalam Angka  2013

2. Struktur dan Pertumbuhan Penduduk

Struktur penduduk berdasar umur di desa pengamatan di sekitar areal kerja perusahaan memperlihatkan bahwa penduduk usia produktif (15 – 60 tahun) sebanyak 7.819 jiwa atau sekitar 61,78 % dari total penduduk, sedangkan penduduk usia belum produktif (0 – 14 tahun) 4.144 jiwa (32,74 %) dan penduduk lanjut usia 693 jiwa (5,48 %). Dengan struktur penduduk tersebut dapat dihitung angka beban tanggungan (dependency ratio) sebesar 61.78, yang berarti setiap 100 jiwa penduduk usia produktif rata-rata menanggung beban penduduk belum dan tidak produktif sebanyak 61.78 jiwa.

Proyeksi Jumlah Penduduk Berdasar Kelompok Umur di Desa Sekitar Areal Perusahaan

 Kelompok Umur
(Tahun)
Laki-laki
(Jiwa)
Perempuan
(Jiwa)
Total
(Jiwa)
Desa Kubu
0 – 14 817 774 1.591
15 – 60 1.591 1.579 3.170
> 60 165 187 352
Jumlah 2.573 2.540 5.113
Desa Batu Ampar
0 – 14 1.330 1.223 2.553
15 – 60 2.409 2.240 4.649
> 60 210 131 341
Jumlah 3.949 3.594 7.513

Sumber : Proyeksi jumlah penduduk 2010 berdasar data penduduk desa sekitar areal kerja PT. Kandelia Alam dan struktur penduduk berdasar umur di Kec. Kubu dan Kec.Batu Ampar Tahun 2013.

Berdasar data statistik pemerintahan Kabupaten Kubu Raya, jumlah penduduk tahun 2011 dan 2012, dapat diketahui gambaran angka pertumbuhan penduduk di desa – desa sekitar areal kerja PT. Kandelia Alam dalam setahun terakhir di Kecamatan Kubu rata-rata 0.99 persen. di Kecamatan Batu Ampar rata-rata 1.65 persen. Berdasar data tersebut diketahui bahwa pertumbuhan penduduk sangat bervariasi antara desa, dan secara keseluruhan rata-rata pertumbuhan penduduk tingkat kecamatan jauh lebih kecil dibandingkan dengan rata-rata pertumbuhan penduduk tingkat Kabupaten Kubu Raya adalah 2.05 persen.

Pertumbuhan penduduk antar desa tersebut sangatlah bervariasi yang sangat dipengaruhi oleh adanya faktor alamiah yang bersifat fertilitas dan mortalitas sedangkan faktor non alamiah bisa berbentuk migrasi keluar dan masuk ke wilayah pemukiman penduduk.

 

C. PEREKONOMIAN MASYARAKAT SETEMPAT

1. Mata Pencaharian Penduduk

Komposisi penduduk berdasarkan matapencaharian menunjukkan aktivitas atau profesi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidup sosial dan ekonominya. Masyarakat desa-desa pengamatan umumnya bermata pencaharian sebagai nelayan, petani, peternak, jasa, buruh, pedagang dan pegawai negeri sipil. Matapencaharian sebagai nelayan oleh karena lokasi desa pengamatan dan sebagian besar pemukiman penduduk berjajar mengikuti aliran sungai dan berada dipesisir laut. Matapencaharian penduduk Desa Kubu dan Batu Ampar lebih bervariasi, selain sebagai nelayan, petani lahan basah juga mengusahakan lahan kering, peternak, pedagang, dan jasa. Sebagian warga di desa pengamatan mengkombinasikan kegiatan sebagai nelayan dan petani karena di desa juga terdapat areal persawahan yang cukup potensial dan produktif.

 

KS-3
KS-4
KS-5

Profil Lahan Sawah Tadah Hujan, Hasil Udang Nelayan dan Industri Rakyat Kayu Arang

Usaha nelayan yang dilakukan penduduk setempat umumnya berupa mencari ikan, udang dan kepiting yang merupakan kegiatan nelayan secara turun temurun dari pengalaman orang tua mereka terdahulu. Khusus masyarakat desa Batu Ampar ada industri rakyat berupa pembuatan Kayu Arang yang dilakukan masyarakat setempat dan cukup membantu untuk penghidupan masyarakat.

Hasil interview dan analisis data primer terhadap 33 responden dari kategori profesi yang berbeda untuk tingkat pendapatan masyarakat tahun 2013 di masing-masing desa pengamatan sebagaimana Tabel di bawah ini.

Rata-rata Pendapatan Masyarakat Desa Sekitar Areal Perusahaan per Desember  2013.

 Kategori Profesi Pendapatan
(Rp./Thn)
Pengeluaran
(Rp./Thn)
Saldo
(Rp./Thn)
PerKapita
(Rp./Thn)
Pendapatan
Bulanan
Nelayan 34.982.000 25.739.280  9.242.720  7.696.040  2.915.167
Petani 21.825.333 20.166.667  1.658.667  5.092.578  1.818.778
Pedagang 112.715.000 87.505.000  25.210.000  29.118.042  9.392.917
Jasa 36.919.550 27.378.000  9.541.550  15.383.146  3.076.629

Sumber: Analisis Data Primer di desa-desa pengamatan,  2013

Penghasilan penduduk yang bermatapencaharian sebagai nelayan dan juga ditunjang dari hasil bertani, hasil survei menunjukkan rata-rata pendapatan perKapita Rp. 7.696.040,- sedangkan pendapatan rata-rata petani adalah Rp.5.092.578,-. Pendapatan perKapita bagi penduduk yang berprofesi bidang jasa rata-rata Rp.15.383.146,- dan tingkat tertinggi dari rata-rata pendapatan pedagang yaitu Rp.29.118.042,-. Apabila dilihat dari pendapatan bulanan penduduk yang berprofesi sebagai pedagang dan jasa jauh lebih besar yaitu antara Rp. 3.076.629,- sampai Rp. 9.392.917,- dibandingkan pendapatan rata-rata bulanan dari petani dan nelayan antara Rp. 1.818.778,- sampai Rp. 2.915.167,-.

Dilihat dari data Badan Pusat Statistik tahun 2012 rata-rata pendapatan perKapita masyarakat Kabupaten Kubu Raya dengan harga berlaku yaitu Rp 11.204.816,- dan nilai tersebut lebih tinggi dari rata-rata pendapatan bagi petani maupun nelayan, serta jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata pendapatan sebagai pedagang atau berprofesi bidang jasa.

Hal ini menunjukkan peningkatan dalam hal kecukupan pangan bila diperbandingkan nilai pendapatan perKapita penduduk dengan nilai harga beras setempat (Rp.9.000 – Rp.10.000,-/Kg) yaitu dari berprofesi nelayan 769 kg dan petani 509 kg sedangkan dari berprofesi pedagang 2.911 kg dan berprofesi bidang jasa 1.538 kg. Menurut Sajoyjo,1983 pendapatan perKapita penduduk disebut kecukupan pangan bila penghasilan setara beras berkisar 360 kg sampai 480 kg.

2. Sarana Perekonomian Masyarakat Setempat

Masyarakat di suatu daerah umumnya memerlukan dukungan berbagai sarana-prasarana perekonomian, hal itu baik untuk kepentingan penjualan hasil-hasil produksi masyarakat maupun untuk memenuhi berbagai kebutuhan rumah tangga dan sarana-prasarana produksi. Demikian pula halnya masyarakat di daerah sekitar areal perusahaan memerlukan berbagai sarana-prasarana perekonomian untuk menunjang berbagai aktivitas perekonomian mereka, terutama pasar, toko, warung, depot bahan bakar minyak (BBM), sarana transportasi, sarana komunikasi, lembaga keuangan, dan sebagainya.

Secara alamiah lingkungan pemukiman penduduk, akan muncul sarana-prasarana perekonomian, dengan jenis, jumlah, dan kapasitas usaha sesuai dengan volume kegiatan ekonomi masyarakat setempat. Selanjutnya untuk mendukung kegiatan ekonomi desa dalam suatu daerah, juga akan muncul pusat kegiatan ekonomi antar desa. Pada tingkat selanjutnya akan muncul pusat kegiatan ekonomi yang lebih besar untuk memberikan dukungan bagi kegiatan perekonomian beberapa pusat perekonomian lokal antar desa tersebut. Gambaran keberadaan sarana-prasarana perekonomian yang ada di desa-desa sekitar areal kerja Perusahaan dapat dilihat pada Tabel di bawah ini.

Jumlah Sarana-Prasarana Perekonomian di Desa Sekitar Areal Kerja Perusahaan

 Sarana Perekonomian DESA KUBU
(Unit)
DESA BATU AMPAR
(Unit)
Pasar 1 1
Toko/Kios 49 67
Koprasi 1 3
Unit Giling Padi 2 2
Kapal Motor 238 344
Dermaga 3 2

Sumber:  Aparat Desa,  2013

Dari segi jenis dan jumlah, Desa Kubu dan desa Batu Ampar merupakan lingkungan pemukiman yang paling beragam dan banyak sarana-prasarana perekonomiannya. Desa Kubu adalah daerah ibukota Kecamatan, dan merupakan tempat pusat pemerintahan.
Selain itu posisi desa Kubu cukup strategis, yakni di pinggir Sungai dan relatif mudah dijangkau dari desa-desa sekitar. Oleh karena itu desa Kubu menjadi semacam pusat perekonomian lokal skala kecamatan bagi masyarakat di sekitar areal perusahaan dan masyarakat di wilayah kecamatan. Banyak pedagang kecil dan warga masyarakat di desa-desa di wilayah Kecamatan Kubu dan Batu Ampar yang membeli barang-barang kebutuhan rumah tangga di toko-toko di wilayah tersebut, baik untuk dijual lagi di desa atau digunakan sendiri.

Barang-barang kebutuhan tersebut terutama bahan makanan (beras, gula, minyak goreng, kopi, bumbu dapur, mie, telor ayam, ikan asin, terigu, garam, kue kering, minuman kemasan, dll), perlengkapan cuci dan mandi (sabun mandi, pasta gigi, sikat gigi, sabun cuci, dll), BBM, gas, pakaian, peralatan dapur, karpet plastik, alat penerangan, dan lain-lain.

Pusat perekonomian masyarakat yang lebih besar dengan jenis dan jumlah sarana-prasarana perekonomian yang lebih lengkap ada di Kubu Raya. Kubu Raya merupakan ibukota Kabupaten dan sekaligus pusat perekonomian masyarakat di daerah Rasau. Di Kubu Raya terdapat pasar umum, beberapa kompleks pertokoan, angkutan umum, dermaga, hotel dan penginapan, serta beberapa bank yang dilengkapi Anjungan Tunai Mandiri (ATM).

3. Kegiatan Ekonomi Masyarakat di Areal Perusahaan

Masyarakat di desa sekitar areal kerja Perusahaan sebagian besar memiliki matapencaharian sebagai nelayan, petani dan selebihnya sebagai pedagang, buruh/karyawan perkebunan, pegawai negeri sipil serta jasa-jasa seperti tukang kayu, pandai besi, bengkel, tata rias kecantikan, penjahit dan jasa transportasi. Terdapat beberapa jenis aktifitas masyarakat yang dilakukan di dalam maupun dekat disekitar areal PT.Kandelia Alam, yakni mencari ikan, kepiting, udang, kapah, mencari hasil hutan dan bertanam padi sawah tadah hujan.

Kegiatan sebagai nelayan ditentukan pada kondisi keadaan air pasang-surut (bahasa setempat : nyorung dan konda) dengan tata waktu berganti setiap minggunya.

Lokasi bagi nelayan untuk mencari hasil dari perairan tersebut tersebar di sekitar areal perusahaan PT.Kandelia Alam, bagi penduduk desa Kubu mencari di sekitar sungai Radak Guntung, sungai Temiang dan sungai Pandu IV sedangkan bagi masyarakat desa Batu Ampar lebih ke arah laut hingga selat Kalimata. Sementara itu mencari ikan dan udang umumnya dilakukan di sungai dengan cara mamasang jaring, bubu dan memasang perangkap kepiting di sisi tepi sekitar hutan bakau.

Hasil tangkapan tersebut sebagian besar dijual kepada penampung di desa setempat dengan menggunakan standar ukuran dan harga yang sudah ditetapkan kisaran Rp.30.000,- sampai Rp.45.000,- per kilogram.

Pemenuhan kebutuhan akan pangan, banyak petani menanam padi sawah tadah hujan. Kegiatan tersebut bagi penduduk desa Kubu (dekat PT. Kandelia Alam) sangat berdekatan dengan areal tebangan 2 tahun terakhir ini sehingga sangat dikeluhkan bagi para petani setempat.

Selain bertani dan mencari ikan, masyarakat juga mencari hasil hutan, seperti kayu untuk bahan membuat/memperbaiki rumah, membuat perabot rumah tangga, peralatan kerja (tangkai parang/kapak, dayung, dsb), atau membuat perahu. Hasil hutan bukan kayu antara lain madu, buah-buahan seperti langsat, durian, cempedak, daun nipah dan lain-lain.

 

D. SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT

1. Keragaman Penduduk

Keragaman suku bangsa Indonesia di masing-masing desa pengamatan sebagian besar didominasi dari Suku Melayu. Selain penduduk dari suku Melayu, pada masing-masing desa juga terdapat penduduk pendatang dari berbagai suku dan daerah di Indonesia, antara lain Jawa, Bugis, Dayak, Banjar dan lain-lain.

Penduduk pendatang tersebut sebagian datang ke daerah ini berstatus sebagai pegawai negeri sipil (staf kecamatan/ guru/ perawat medis / dokter/ tentara/ polisi), pedagang, pegawai atau buruh perusahaan, dan profesi lainnya. Pada beberapa desa pengamatan, warga suku yang dominan dapat menerima pendatang suku lainnya, termasuk sebagai pegawai pemerintah, bahkan sebagai aparat desa.

Hubungan antar suku dalam satu desa berlangsung relatif harmonis, baik antar suku penduduk asli maupun antara penduduk asli dan pendatang. Belum pernah terjadi konflik fisik atau konflik terbuka berkepanjangan antar suku. Bahkan banyak terjadi proses asilimasi melalui perkawinan antar suku.

Selain itu kerukunan umat beragama berjalan baik sesuai kepercayaan yang dianut masing-masing penduduk desa, seringnya kegiatan keagamaan yang diselenggarakan secara rutin oleh penganut agama Islam (Maulid Nabi, Isra Mi’raj) maupun agama Kristen seperti peringatan Natal dan Perayaan Paskah di masing – masing desa pengamatan maupun kegiatan – kegiatan kemasyarakatan lainnya.

Dalam kehidupan sehari-hari Kepala Desa, Tokoh Agama memiliki peran yang cukup besar di tingkat masyarakat terutama bagi agama mayoritas di desa. Lebih jelas tentang keragaman suku bangsa dan penganut agama di desa-desa sekitar perusahaan dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Keragaman Suku Bangsa dan Penganut Agama di Desa Sekitar Areal Perusahaan

 Keragaman Penduduk Desa Kubu
(%)
Desa Batu Ampar
(%)
Keragaman Suku Bangsa
Melayu 60 80
Jawa 5 5
Bugis 5 5
Dayak 20 4
Tionghoa 1 2
Suku Lainnya 9 4
Jumlah 100 100
Keragaman Penganut Agama
Islam 99 99
Kristen 0,8 0,7
Budha 0,2 0,3

Sumber:  Prediksi Aparat Desa,  2013

2. Pendidikan Masyarakat

Fasilitas pendidikan di desa pengamatan relatif cukup tersedia, hal ini terlihat serta ditunjang sarana belajar yang tersedia di desa Kubu maupun desa Batu Ampar, mulai dari Sekolah Taman Kanak – Kanak (TK), Sekolah Tingkat Dasar(SD), Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama(SLTP) dan Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA). Ada beberapa anak didik yang berasal dari desa-desa sekitar bertujuan sekolah ke ibukota Kecamatan dan Kabupaten, ataupun ibukota Propinsi Kalimantan Barat yaitu Kota Pontianak.

Berdasarkan penjelasan Aparat desa dan tokoh masyarakat bahwa lebih dari 80 % penduduk desanya dapat membaca dan sisanya belum bisa baca tulis, hal ini lebih ditujukan kepada anak-anak usia dini dan para orang tua yang lanjut usia.
Tingkat pendidikan penduduk di masing-masing desa pengamatan yang termasuk dalam wilayah Kecamatan Kubu dan Kecamatn Batu Ampar dapat dikatakan sudah memahami akan pentingnya pendidikan, hal ini dapat dilihat bahwa di masing-masing desa sudah ada anak didik yang lulus dari sekolah tingkat Diploma hingga sampai jenjang Sarjana.

3. Kesehatan Masyarakat dan Sanitasi Lingkungan

Kesehatan lingkungan merupakan faktor penunjang terciptanya kondisi lingkungan desa yang bersih, sehat dan nyaman. Keberadaan fasilitas dan tenaga medis yang cukup dan layak merupakan salah satu faktor terciptanya kondisi lingkungan yang sehat. Jenis fasilitas dan tenaga medis di desa-desa pengamatan lebih bervariasi dibandingkan di tingkat Kecamatan. Keberadaan Puskesmas di Desa Kubu dan Desa Batu Ampar dapat memberikan pelayanan medis yang lebih memadai kepada masyarakat.

Tingkat kesehatan masyarakat sangat ditunjang dengan tersedianya fasilitas kesehatan dan tenaga medis. Fasilitas kesehatan di tingkat Kecamatan Kubu maupun Kecamatan Batu Ampar cukup memadai yaitu berupa sarana pelayanan masyarakat untuk berobat yang berada di pusat pemerintahan Kecamatan, selanjutnya tempat pelayanan pemeriksaan kesehatan di tingkat desa berupa Puskesdes (Pusat Pelayanan Kesehatan Desa) beserta program Posyandu (Pusat Pelayanan Terpadu) dan berlansung setiap bulan di setiap desa.

Ketersediaan tenaga medis di wilayah Kecamatan Kubu maupun Batu Ampar jumlahnya relatif memadai yaitu memiliki dokter, dan tersedia masing-masing 7 orang tenaga medis serta dibantu dukun persalinan yang bersertifikat dari Dinas Kesehatan. Data mengenai ketersediaan fasilitas kesehatan dan tenaga medis di wilayah Kecamatan dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Fasilitas Kesehatan dan Tenaga Medis Di Wilayah Kecamatan  Kabupaten Kubu Raya

 No. Uraian Kecamatan Kubu Kecamatan Batu Ampar
 I. Fasilitas Kesehatan
1 Puskesmas 1 Unit 1 Unit
2 Pustu 12 Unit 4 Unit
3 Polindes 16 Unit 14 Unit
4 Praktek Dokter 1 Dokter 1 Dokter
5 Praktek Bidan 1 Bidan 3 Bidan
6 Praktek Mankes 1 Mantri 9 Mantri
7 Posyandu 25 Unit 32 Unit
 II. Tenaga Medis
1 Dokter 3 Orang 2 Orang
2 Tenaga Medis 15 Orang 13 Orang
3 Bidan 16 Orang 21 Orang
4 Petugas Gizi - -
5 Dukun Bersalin 64 Orang 45 Orang 

Sumber :  Kecamatan Kubu dan Batu Ampar dalam Angka, 2013

Kondisi kesehatan masyarakat dapat dilihat dari keberadaan sanitasi lingkungan hidupnya. Keberadaan sanitasi lingkungan salalu terkait dengan keberadaan pola pemukiman, sumber dan pola penggunaan air bersih, kepemilikan jamban keluarga dan kebiasaan pembuangan limbah.

Berdasarkan pengamatan, bentuk pemukiman didominasi oleh bentuk rumah panggung semi permanen yang terbuat dari kayu dan dinding berlapis semen. Rumah-rumah dibangun berjajar mengikuti aliran sungai, di tengah permukiman terdapat jalan yang menghubungkan antara satu pemukiman dengan pemukiman lainnya.

Aktivitas mandi dan mencuci bagi warga desa Kubu sebagian besar dilakukan di sungai, sedangkan buang air besar mengunakan wc di rumah. Namun ada warga menggunakan kamar mandi di dalam rumah yang sumber airnya berasal dari sumur galian atau dari menampung air sungai. Sumber air minum diperoleh dengan cara menampung air hujan atau diambil dari sumur-sumur artesis. Bagi warga desa Batu Ampar dalam pemenuhan kebutuhan air sehari-hari seperti mandi-cuci-kakus(MCK) dengan menggunakan sumber mata air dari gunung.

Berdasarkan informasi dari beberapa penduduk setempat, jika terjadi hujan air sungai bisa mengalami keruh mencapai 3-4 hari dari hari sebelumnya. Selain pola hidup masyarakat ditentukan oleh keadaan alam, juga dapat dipengaruhi berbagai penyakit yang mereka idap. Hasil identifikasi lapangan diperoleh informasi dari petugas kesehatan di Puskesmas dan Puskesdes, penyakit yang sering diderita masyarakat di masing-masing desa pengamatan antara lain penyakit Diare, Demam, ISPA, Gastritis/ Mag, dan Hypertensi.

Melihat keberadaan sanitasi lingkungan di masing- masing desa pengamatan khususnya di sekitar pemukiman pada tingkat pemahaman penduduk akan pentingnya kebersihan lingkungan relatif cukup rendah.

Lingkungan Pemukiman dan Aktivitas Mandi-Cuci Penduduk Desa Kubu

KS-6
KS-7

4. Infrastruktur Desa

Kemajuan suatu desa tidak lepas dari tersedianya kelengkapan infrastruktur yang ada dalam wilayah pemerintahannya. Sehingga dengan tersedianya infrastruktur desa dapat terukur memungkinkan tumbuhnya sektor perekonomian setempat dan tingkat kesejahteraan masyarakat.

Fasilitas umum di masing-masing desa pengamatan dapat disebut cukup lengkap dan memadai, hal ini dapat dilihat dengan adanya bangunan fisik sarana – prasarana pemerintahan hingga fasilitas umum masyarakat desa seperti perkantoran desa, tempat balai pertemuan umum, dermaga bongkar-muat barang, koperasi, telekomunikasi satelit, tempat beribadah (mushola,gereja), semenisasi jalan, sarana kesehatan berupa Puskesmas bantu (Pustu) atau Puskesdes (Pusat kesehatan Desa), penerangan desa berupa Pusat Listrik Negara(PLN) dan sarana pendidikan dari tingkat Taman Kanak-Kanak (TK) atau Pendidikan Anak Usia Dini(PAUD), Sekolah Dasar(SD), Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SMP) dan tingkat SLTA (Sekolah Lanjutan Tingkat Atas). Keberadaan infrastruktur di masing-masing desa pengamatan di sekitar perusahaan dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Ketersediaan Infrastruktur di Desa Sekitar Areal Perusahaan

 Infrastruktur  Desa Kubu  Satuan  Desa Batu Ampar
Jalan Desa
Semen/Aspal
Jembatan
 20,5
1750
97
 Km
M
Unit
 4
2500
2
Sumber Air (MCK)  Air hujan/ sumur dan Sungai  Posisi  Air Gunung dan Sumur
Listrik Desa  PLN PLN/Milik   PLN
Telekomunikasi  3  Unit
Pendidikan :
TK
SD
SLTP
SLTA
 1
6
2
2
 Unit  1
6
2
1
Tempat Ibadah :
Masjid/Surau
Gereja
Budha Vihara
 6/7
2
1
 Unit  5/8
2
1
Kesehatan :
Puskesmas
Polindes
Pustu
 1
1
 Unit  1
1
Kantor Desa  1  Unit  1
Balai Pertemuan  -  Unit  -
Koperasi  1  Unit  3
Pasar
Kios/Warung
 1
49
 Unit  1
67
Dermaga Pelabuhan  3  Unit  2
Sarana Olahraga  2  Unit  2

Sumber : Aparat Desa dan  Kecamatan Kubu & Kecamatan Batu Ampar Dalam Angka, 2013

5. Kelembagaan Masyarakat

Kelembagaan masyarakat di masing-masing desa pengamatan pada prinsip hampir sama dengan yang berlaku pada desa-desa lain di Indonesia. Ada kelembagaan formal yang merupakan perangkat pemerintahan tingkat desa dan kelembagaan informal yang tumbuh dan berkembang mengikuti situasi-kondisi serta interaksi antar warga dalam bermasyarakat. Berbagai jenis lembaga masyarakat yang ada di masing-masing desa tersebut dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Dalam lembaga pemerintahan desa, jabatan untuk menjalankan roda pemerintahan di wilayah desa tetap dipimpin oleh Kepala Desa dan dibantu Sekretaris desa dan beberapa kepala urusan pemerintahan. Kelembagaan masyarakat yang terdapat di masing masing desa pengamatan dapat dikatakan sama diantaranya Badan Perwakilan Desa (BPD), Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa (LPMD), Pusat Pelayanan Kesehatan Terpadu (Posyandu), lembaga kepemudaan Karang Taruna, Kelompok Tani-Nelayan, Kelompok Pengajian dan lembaga kewanitaan yaitu PKK (Pendidikan Kesejahteraan Keluarga) dan lainnya.

Jenis Lembaga Masyarakat di Desa Sekitar Areal Perusahaan

 No. Nama Kelembagaan Lokasi Peran
1 Aparat Pemerintahan Desa Kubu
Bt.Ampar
Program pelayanan dan pendampingan masyarakat di desa
2 LPMD Kubu
Bt.Ampar
Pendampingan program pemberdayaan masyarakat  desa
3 BPD Kubu
Bt.Ampar
Wadah  permusyawaratan dalam penetapan kebijakan desa 
4 PKK Kubu
Bt.Ampar
 Pemberdayaan kaum perempuan untuk ibu-ibu rumah tangga
5 Karang Taruna Kubu
Bt.Ampar
Wadah penyaluran bakat  kaum muda  
6 Posyandu Kubu
Bt.Ampar
 Pelayanan kesehatan bagi ibu dan anak termasuk lansia
7 Majelis Taklim Kubu
Bt.Ampar
 Peningkatan keimanan dan kerukunan masyarakat desa
8 FKPM Bt.Ampar  Forum Komunikasi Pengamanan Masyarakat
9 OMS (Organisasi Masyarakat Setempat) Bt.Ampar  Wadah pengawasan pembangunan desa
10 Kelompok Tani/Nelayan Kubu
Bt.Ampar
 Wadah komunikasi dan peningkatan pemberdayaan tani dan nelayan
11 Koperasi Kubu
Bt.Ampar
 Wadah kekuatan perekonomian masyarakat
12 PHBI Kubu
Bt.Ampar
 Wadah kepanitiaan perayaan hari besar islam

Sumber : Data primer, 2013

Menghadapi masyarakat yang terbagi dalam bentuk-bentuk kesukubangsaan dan juga kedaerahan yang sudah bersifat otonomi, maka perlu kiranya memperhatikan persebaran politik secara kedaerahan.
Pertemuan antara sistem politik nasional dengan sistem politik kedaerahan atau lokal biasanya disebut politik tingkat lokal.
Sering dalam arena-arena formal nasional, para individunya menggunakan model-model yang bersandarkan pada kebudayaan suku bangsa sehingga dalam arena formal sering terdapat kelompok-kelompok dalam arena formal yang mempunyai kesamaan kebudayaan dan kepentingan.

Penggunaan sistem politik nasional dalam tingkat lokal bisa menciptakan pemanipulasian strategi dalam pemanfaatan tingkat lokal, seperti pendominasian salah satu sistem di arena tersebut dapat mengakibatkan lemahnya salah satu sistem dan bahkan bisa menjadi hilang dan tersimpan dalam kebudayaan suku bangsa yang sewaktu-waktu bisa meledak dalam proses waktu tertentu.

Orang-orang yang mempunyai kedudukan atau kemampuan yang dianggap bisa menasional dengan latar belakangnya masing-masing (pendidikan, ekonomi dan politik) maka orang-orang tersebut dianggap sebagai representasi dari masyarakatnya masing-masing.

Politik tingkat lokal yang ada dan berbeda-beda di wilayah desa, mendorong kepada parapihak untuk memahami dan beradaptasi terhadap sistem politik yang berlaku di daerah-daerah tersebut. Sehingga diperlukan suatu bentuk strategi dalam beradaptasi pada masing-masing daerah, baik terhadap sistem politiknya maupun terhadap komunitas-komunitas lokal yang ada.

6. Hak Tradisional Masyarakat

Hak tradisional adalah hak-hak yang terjadi karena kepercayan, adat istiadat, relasi sosial dan budaya serta telah diakui oleh masyarakat lokal pada umumnya dan berlangsung secara terus menerus. Di desa Kubu dan desa Batu Ampar tidak ada dokumen atau hasil kajian sosial yang memberikan informasi tentang keberadaan hak-hak tradisional.

Selain kegiatan ekonomi, terdapat pula kegiatan masyarakat di sekitar areal kerja PT. Kandelia Alam yang bersifat sosial budaya, seperti kegiatan ritual atau pemeliharaan dan pengamanan situs yang dianggap keramat di dalam hutan maupun di wilayah masing-masing desa.

Berdasarkan hasil identifikasi di masing-masing desa pengamatan khususnya penduduk lokal suku Melayu di desa Kubu telah menerapkan ritual Robo-Robo atau upacara tolak balak saat musim tanam tiba hingga acara panenan.

7. Penelusuran Alur Sejarah Desa

Penelusuran sejarah desa dilakukan untuk membuka lembar ingatan masyarakat mengenai asal-usul berdirinya desa, latar belakang pendirian desa, dan berbagai perkembangan serta peristiwa penting yang pernah terjadi di desa. Penelusuran sejarah desa dilakukan dalam forum pertemuan masyarakat (Focus Group Discussion/FGD), untuk menggali berbagai informasi penting terkait asal usul dan sejarah perkembangan desa dari para tokoh dan tetua masyarakat serta warga masyarakat lainnya.

Berbagai kejadian penting ditulis pada kertas plano, mulai tahun-tahun pertama terbentuknya desa sampai terjadinya perkembangan desa dan berlanjut sampai saat sekarang. Dalam penelusuran alur sejarah desa-desa yang berada disekitar areal IUPHHK PT. Kandelia Alam sebagaimana terangkum;

7.1 Sejarah Perkembangan Desa Kubu

Asal muasal Desa Kubu diceritakan berasal datangnya bapak As Sayyid Idrus Bin Abdurrahman dari Hadramaut – Yaman Selatan pada tanggal 07 juni 1768 yang selanjutnya mendirikan kerajaan Kubu dan memimpin pertama periode 1772-1795, dilanjutkan oleh anak-anaknya hingga Raja Kubu ke 8 yaitu Syarif Saleh pada periode 1921 – 1943.  Pada tahun 1948 sistem kerajaan dihapus oleh Pemerintah Republik Indonesia. Sejak itu beralih menjadi desa Kubu dan  selengkapnya tentang perkembangan sejarah desa Kubu sebagaimana disajikan pada Tabel berikut.

Ringkasan Alur Sejarah Desa Kubu di Kecamatan Kubu, Kabupaten Kubu Raya

 Tahun Keterangan / Peristiwa
1948 Pemerintahan  Kubu dipimpin oleh seorang Penggawa bernama M Yusuf Arsyad yang mana dalam pemerintahannya membawahi 2 kepala kampung yaitu kampung Tokaya dipimpin oleh M Tratalib dan kampung Kubu dipimpin oleh M  Sood Jafar.
1958 Mulai dibangun sarana pendidikan yaitu Sekolah Rakyat.
1960 Penamaan Sekolah Rakyat berubah menjadi Sekolah Dasar Negeri 6 tahun dan pada tahun ini juga didirikan Balai Pengobatan di Kubu.
1966 Dibangun Komando Rayon Militer (Koramil) di Kubu
1967 Didirikan SMP Harapan berstatus  swasta dan ada perusahaan kayu  yang beroperasi di kubu yaitu PT. Kalsari
1970 Mulai ada Balai Nikah diKubu, pada saat itu juga ada Bank pemerintah yang beroperasi yaitu Bank Rakyat Indonesia (BRI) tetapi hanya 10 tahun beroperasi dan  tutup pada tahun 1980.
1971 Mulai dibangun Kantor Kepolisian di Kubu
1972 Kampung Tokaya dan Kubu digabung menjadi satu pemerintahan (disebut Desa Kubu)
1973 Sarana Sekolah Dasar pertama dibangun yaitu SDN 01
1978 Dilanjutkan pembangunan berikutnya Sekolah Dasar Negeri/SDN 02
1980 - Ada 2 Perusahaan Kayu yang melakukan pengelolaan hutan bakau di sekitar Desa Kubu yaitu
  PT. Bumi Indonesia 
Djaya 
- Dibangun Surau Nurul Huda.
1981 - SMP Harapan berubah nama menjadi SMP Negeri 1 Kubu.
- Desa Kubu dipimpin oleh Kepala Desa yang bernama M Sood Jafar.
- Pasca Kepala desa M Sood Jafar desa Kubu dipimpin oleh Kepala Desa M Hadi Ahmad periode 1981 s/d 2007.
 - Pada saat itu juga dilakukan pembangunan Balai Desa.
1982 - Selang 2 tahun Surau Nurul Huda ditingkatkan menjadi Mesjid dan tetap bernama Nurul Huda. 
- Terjadi Kebakaran Rumah Toko/Ruko di Kubu
 1984/
 1985
Pembangunan Kantor Kecamatan Kubu
 1986 - Sesuai perkembangan Desa dibangun satu Mesjid Nurul Iman.
- Untuk menunjang pendidikan di bangun SMA Panca Bakti.
- Balai Kesehatan berubah menjadi Puskesmas dan sekaligus didirikan sebagai tempat Rawat Inap.
 1987 Dibangaun kantor Pos
 1989 Dibangun kantor Desa
 1990 Madrasah Tsanawiyah Khairusaadah didirikan
 1991 Sekolah Menengah Atas Negeri dibangun
 1994 Dibangun Surau Al Falah
 1998 Musim kemarau terjadi kebakaran rumah penduduk
 2000 - Surau Al-Falah dibangun 1994 berubah menjadi Mesjid Al-Falah.
- Dibangun Madrasah Aliyah/MAS Khairusaadah.
- PT Bina Manda Pratama C.I. dan Inhutani II memberikan bantuan ke sekolah MTs
- Rehab Mesjid Khairussa’adah yang didirikan pada Jaman Kerajaan Kubu.
 2002 Pembangunan Mesjid yang bernama Nurul Falah di dusun Usaha Karya.
2003 Didusun Kelang Jaya dibangun Mesjid Al Ikhlas.
2005 Dibangun BTS (Stasiun Transmisi Telekomunikasi ) Telkomsel beroperasi pada tahun 2007 dan Indosat
beroperasi  tahun 2006
2007 Kepala Desa Riduansyah dengan masa bakti 2007-2013 menggantikan Kepala Desa terdahulu M Hadi Ahmad
2008 PT Kendelia Alam mulai beroperasi dalam pengelolaan hutan bakau.
PT Ichico Agro Lestari beroperasi dalam pengelolaan Kepala Sawit
2009 Bantuan PT Ichico : Kantor Desa,Mesjid,Surau, Gereja dan Lapangan bola.
2010 Dibangun BTS XL
2011 Dilanjutkan BTS Three
 2012 Bantuan  PT. Kendelia Alam dalam bentuk Semenisasi Jalan 200 x 3m.
2013 Bantuan PT Kendelia di Mesjid Nurul Huda dan Surau Nurul Islam serta tiap tahun berupa hewan kurban
dan pembagian THR untuk seluruh RT serta Kepala Desa

Sumber : Data primer, 2013

7.2 Sejarah Desa Batu Ampar

Penelurusan sejarah desa Batu Ampar berawal sekitar tahun 1916 dengan kedatangan utusan Kerajaan Kubu yang bernama Syarif Iberahim Alydrus, dalam perjalanannya ke Batu Ampar bersama 3 orang yaitu Bujang Atim, Ruslan Derakim dan Dandeng. Sejarah Desa selengkapnya sebagaimana disajikan pada tabel berikut.

Ringkasan Alur Sejarah Desa Batu Ampar di Kecamatan Batu Ampar Kabupaten Kubu Raya

 Tahun  Keterangan / Peristiwa
 1917 Penggawa/ Kepala kampung pertama di Batu  Ampar yaitu Bujang Atim.
 1940 an Mesjid pertama dibangun dan diberi nama Nurul Mukminin
1950 an Penggagas pembuatan kayu arang bernama Tokek Akim dari Cina.
1968 PT SDR yang mengelola Hutan Bakau sebagai bahan baku sawmilnya.
1970 an - Pergantian Penggawa oleh Ruslan Derakim (masa bakti belum diketahui).
- Di bangun Puskesmas
- Dibentuk Unit Kerja Usaha MKL dan diubah menjadi nama UKA.
1972 - Terjadi Kebakaran Pasar 
- Dibangun SD Inpres dan berganti bernama SDN 07 (tahun 2003)
- Tumbuhnya Industri Sawmil di Batu Ampar.
- Dibentuk Koperasi bernama TKBM (Tenaga Kerja Bongkar Muat).
1974 - Dibangun Tempekong
- Dibangun Gereja Katolik
- Mulai ada taxi air (speedboard)
1978 Terjadi kebakaran Pasar (peristiwa ke 2)
Pipanisasi air minum dari mata air gunung oleh YUKA (Yayasan Unit Kerja)
1980 an Dibangun Kantor desa
1982 Beroperasinya Perusahaan Listrik Negara (PLN)
1983 Pertama kali orang menggunakan kendaraan roda 2 di desa
1984 Kebakaran Pasar (peristiwa ke 3)
1985 Kepala kampung Bujang Atim memimpin  (masa bakti belum diketahui).
1986 Batu Ampar sudah berbentuk desa dan dipimpin oleh Mahmudin Muchtar
1987 Rehab Tempekong
1987 Semenisasi Jalan sepanjang + 1 km selebar 1,5 m
1992 Gereja Protestan dibangun
1993 - Dibangun BTS (Stasiun Transmisi Telekomunikasi ) Telkomsel di gunung Mungguk Linang Dusun Teluk Air.
- Dibangun SMPN 02
1994 Dibangun tempat ibadah Vihara umat Budha
2001 Kepala desa yang bernama Ismail Sani , dengan masa bakti 2001- 2004.
2002 Rehab kantor desa
2003 Dibangun BTS (Stasiun Transmisi Telekomunikasi ) Indosat di gunung Teluk Air.
2004 Disusul bangunan BTS Indosat
2005 - Stasiun Transmisi Telekomunikasi Telkomsel dibangun di sungai Limau.
- Didirikan sarana pendidikan anak usia dini (PAUD).
2006 - Kepala Desa Bpk Mohret dengan masa bakti 2006-2012.
- Dilakukan tata batas Desa Batu Ampar dengan Desa Tanjung Harapan.
2007 BTS/Stasiun Transmisi Telekomunikasi  Telkomsel dibangun di Teluk Mastura
2011 Kemitraan PT.FSL dengan KUD Karya Bersama mengenai bagi hasil kebun Sawit.
2012 Peralihan Kepala Desa Batu Ampar dari Bapk Mohret ke Kades baru Bpk Junaedi Abdullah, dengan
masa bakti 2012-2018

Sumber : Data primer, 2013

8. Pemetaan Sketsa Wilayah Desa

Peta sketsa dibuat untuk melihat keadaan umum desa dan lingkungannya yang menyangkut sumberdaya dan sarana/prasarana yang ada di desa. Penggambaran peta sketsa dibuat secara sederhana di atas kertas (flipchart) dengan menggunakan alat tulis.

Penggambaran sketsa desa dimulai dengan objek yang dikenal oleh semua anggota masyarakat atau potensi desa seperti jalan utama, jalan desa, sungai, sarana prasarana desa, tata guna lahan dan batas-batas desa. Penggambaran batas desa tersebut merupakan informasi awal atas pengakuan warga setempat (sepihak) dari penggambaran yang dibuat perwakilan desa, dan masih diperlukan pengakuan dari berbagai pihak untuk selanjutnya dikukuhkan oleh aparat yang berwenang di wilayah pemerintahan kecamatan tersebut.

Pembuatan sketsa desa penting untuk mengungkap dan menggambarkan pengetahuan dan persepsi masyarakat terhadap kondisi wilayah desa ke dalam sebuah gambar visual berupa sketsa. Terutama mengenai posisi dan sebaran lokasi-lokasi penting bagi kehidupan masyarakat, seperti letak pemukiman, sungai besar, anak-anak sungai, ladang/sawah, kebun, kuburan, tempat mencari ikan, tempat berburu, batas dengan desa tetangga, dan sebagainya.

Pembuatan peta sketsa wilayah desa-desa yang berada di sekitar areal IUPHHK PT.Kandelia alam sebagaimana terangkum.

8.1 Pemetaan Sketsa Wilayah Desa Kubu

Pemukiman penduduk desa Kubu berada di tepi sungai Kapuas. Posisi rumah-rumah penduduk di desa ini tertata relatif rapi, berjajar dan dipisahkan oleh jalan desa. Di belakang atau perbatasan pemukiman terdapat kanal/paret selebar 5 meter yang dimanfaatkan oleh penduduk sebagai sarana transportasi air untuk mencari ikan ke arah sungai Terentang, sungai Radak, sungai Tamiang, sungai Simpang Cabe hingga sungai Sepada.

Dari gambar sketsa wilayah Desa Kubu antara lain dapat diketahui bahwa sumber daya alam dan beberapa lokasi penting yang dimiliki oleh masyarakat Desa Kubu sebagian besar berada di sebelah timur dan selatan. Selain pemukiman, terdapat pekarangan, kebun, ladang/sawah dan hutan bakau termasuk laut. Namun demikian di sebelah selatan muara Kubu juga terdapat pulau Pedare dan pulau Panjang yang tumbuh pohon hutan jenis bakau.

Pada umumnya lokasi ladang/sawah tersebut dapat ditempuh dengan jalan darat menggunakan kendaraan bermotor seperti kiri-kanan jalan antar dusun, atau dengan perahu ke arah sungai Temiang, sungai Terus dan sekitarnya.
Dari gambar sketsa tersebut, juga dapat diketahui bahwa Desa Kubu berbatasan dengan Desa Teluk Nangka dan desa Olok-olok di sebelah utara, disebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Terentang, disebelah selatan berbatasan dengan desa Padang Tikar/Batu Ampar sedangkan sebelah barat berbatasan dengan desa Dabong dan desa Sepok. Tidak kalah pentingnya adalah informasi yang tergambar dalam sketsa wilayah desa tersebut belum ada penetapan batas antar desa yang jelas.

KS-8

Peta sketsa Pemukiman Desa Kubu di Kecamatan Kubu Kabupaten Kubu Raya

KS-9

Peta sketsa Wilayah Desa Kubu di Kecamatan Kubu Kabupaten Kubu Raya

 

8.2 Petaan Sketsa Wilayah Desa Batu Ampar

Pemukiman penduduk desa Batu Ampar berada di tepi pesisir Teluk Padang Tikar. Posisi rumah-rumah penduduk di desa ini tertata relatif rapi, berjajar dan dipisahkan oleh jalan desa yang sudah di semenisasi. Di belakang pemukiman terdapat gunung batu yang ditumbuhi jenis pohon kayu.

Dari gambar sketsa, diketahui sumber daya alam dan beberapa lokasi penting yang dimiliki oleh masyarakat desa Batu Ampar sebagian besar berupa pulau-pulau kecil yang ditumbuhi pohon kayu bakau. Selain pemukiman, di bagian ini terdapat pekarangan, gunung batu, kebun-ladang dan termasuk hutan bakau. Selain itu teridentifikasi pula kegiatan berladang masyarakat berada dibelakang gunung batu di sekitar desa, dan terdapat sumber air bersih.

Berdasarkan informasi masyarakat bahwa Desa Batu Ampar berbatasan dengan desa Teluk Nibung di sebelah utara, disebelah timur berbatasan desa Tanjung Beringin, disebelah selatan berbatasan dengan desa di Kabupaten Kayong Utara sedangkan sebelah barat berbatasan dengan Teluk Nuri. Selain itu diketahui ada jalan penghubung antara desa Batu Ampar dengan desa Teluk Nibung.

Tidak kalah pentingnya, yang tergambar dalam sketsa wilayah desa tersebut adalah belum seluruhnya penetapan batas antar desa dan diinformasikan yang pernah ada penetapan batas dengan desa Teluk Nibung.

KS-10

KS-11

Peta sketsa Pemukiman Desa Batu Ampar Kecamatan Batu Ampar Kabupaten Kubu Raya

 

Peta sketsa Wilayah Desa Batu Ampar Kecamatan Batu Ampar

 

 

9. Transek Desa / Melihat Tempat Penting

Untuk memberikan gambaran secara lebih terinci dari informasi yang didapatkan dari penggambaran sketsa desa yaitu dilakukan peninjauan objek atau tempat – tempat penting yang telah diinformasikan sebelumnya, kemudian dibuat matrik transek yang akan memberikan informasi tentang profil potensi dan permasalahannya.
Dalam pembuatan transek dari peninjauan objek atau tempat-tempat penting di desa-desa sekitar IUPHHK PT. Kandelia Alam adalah sebagaiberikut;

9.1 Transek Desa Kubu

Pembuatan transek Desa Kubu dilakukan melalui proses peninjauan terbatas pada jalur transek yang ditetapkan, dimulai dari pinggir sungai ke arah tegak lurus melalui pemukiman penduduk, kebun sampai areal ladang/sawah dan hutan bakau, kemudian dilengkapi dengan informasi dari berbagai kalangan masyarakat dalam acara diskusi pertemuan desa (FGD).

Hasil penelusuran pada jalur transek desa tersebut selanjutnya digambarkan ke dalam gambar Transek Desa disertai catatan hasil identifikasi lapangan untuk kemudian dimintakan kepada masyarakat untuk melengkapi atau mengoreksi mengenai jenis penggunaan lahan seperti jenis tanaman, kesuburan tanah, status lahan, potensi produksi, serta permasalahan yang dihadapi.

Dari gambar transek antara lain diketahui bahwa sumber penghidupan masyarakat yang cukup penting di lingkungan desa adalah sawah, ladang, kebun, sungai/laut dan hutan bakau.
Sawah dan ladang menghasilkan padi (beras) untuk makanan pokok, serta jagung, ubi-ubian, dan sayuran. Meskipun beberapa keluarga petani mengaku hasil ladang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan beras keluarga selama setahun, tetapi mereka tetap melakukan kegiatan ini, karena selain karena faktor tradisi juga karena belum ada sumber pendapatan lain yang mencukupi kebutuhan. Bagi yang sudah memiliki sumber pendapatan lain seperti dari gaji sebagai pegawai negeri/swasta, pedagang, menjual jasa, dan lain-lain, banyak yang sudah tidak lagi berladang. Selain karena produktifitas ladang yang cenderung menurun, ada faktor yang cukup memberatkan masyarakat, yakni lokasi ladang cukup jauh dan keterbatasan lahan untuk usaha.

Sungai atau di laut, selain menjadi sarana transportasi juga menjadi tempat penghasil ikan yang cukup penting untuk memenuhi kebutuhan protein masyarakat dan menjadi tambahan pendapatan keluarga. Meskipun dalam beberapa tahun terakhir timbul masalah berupa kecenderungan penurunan populasi tangkapan nelayan. Hal ini diduga disebabkan karena sebagian hutan bakau di sekitar sungai telah di tebang untuk diproduksi kayunya sehingga tempat dimana ikan-ikan bertelur dan kehidupan kepiting terganggu keberadaannya dan membutuhkan periode waktu untuk menjadikan hutan kembali.
Kebun menjadi penghasil buah kelapa dan getah karet selain pohon buah-buahan seperti cempedak, duku, jengkol dan lainnya. Hasil panen buah kelapa per tiga bulan sekali sangat membantu pendapatan bagi kehidupan keluarga demikian dari hasil getah karet. Sedangkan pohon buah-buahan hanya setahun sekali, bahkan kadang tidak tentu, dan biasanya pada saat panen harganya sangat murah, karena banyak penduduk di desa ini dan desa lainnya juga panen.
Sementara itu hutan bakau menjadi tempat mencari kepiting serta kayu (Nyirih) untuk bahan rumah maupun kayu bakar. Tetapi potensi hutan daratan yang berupa hutan tanaman rakyat dengan jenis Akasia, Sengon dan Jabon mulai banyak ditanam oleh masyarakat, terutama jenis Sengon sudah banyak yang dijual belikan.

Matrik Penggunaan Lahan, Potensi dan Permasalahan Desa Kubu di Kecamatan Kubu

Matrik Penggunaan Lahan, Potensi dan Permasalahan Desa Kubu di Kecamatan Kubu

 

 

 Penggunaan Lahan Pemukiman Kebun Ladang Hutan Laut
Jenis Tanaman Kelapa, Nangka,
Sirsak,Jambu, Singkong,Keladi dan Sayuran
Kelapa, Karet, Cempedak, Jengkol Padi,   Jagung Akasia, Albisia, Jabon, Bakau, Nyirih,Tumli  
Status Tanah Sertifikat milik,
Surat Tanah
Sertifikat milik, Surat Tanah Sertifikat milik, Surat Tanah Negara, HTR  
Kesuburan Tanah Sedang Subur Sedang Subur  
Masalah Kurang Kesadaran
Gotong Royong
Tidak ada penyuluhan pertanian dan perkebunan Tidak ada penyuluhan pertanian Keterbatasan lahan untuk usaha.  
Potensi Tersedia  tenaga
kerja, 
pasar,
material
(kayu Albisia)

Kelapa,
Karet

Padi

Kayu bangunan, Kayu bakar. 

 

Sumber : Data Primer, 2013

9.2 Transek Desa Batu Ampar

Pembuatan transek Desa Batu Ampar dilakukan melalui proses peninjauan terbatas pada jalur transek yang dimulai dari pinggir teluk Padang Tikar ke arah pemukiman penduduk, gunung batu berhutan, ladang sampai kebun dan hutan, kemudian dilengkapi dengan informasi dari berbagai kalangan masyarakat dalam pertemuan.

Hasil penelusuran pada jalur transek desa tersebut selanjutnya digambarkan ke dalam gambar Transek Desa disertai catatan hasil identifikasi lapangan untuk kemudian dimintakan kepada masyarakat untuk melengkapi atau mengoreksi mengenai jenis penggunaan lahan seperti jenis tanaman, kesuburan tanah, status lahan, potensi produksi, serta permasalahan yang dihadapi.

Dari gambar transek antara lain diketahui bahwa sumber penghidupan masyarakat yang cukup penting di lingkungan desa adalah sungai dan laut, ladang, kebun dan hutan.

Sungai atau di laut, selain menjadi sarana transportasi juga menjadi tempat penghasil ikan, kepiting, hasil laut yang cukup penting untuk memenuhi kebutuhan protein dan juga menjadi matapencaharian utama keluarga. Meskipun demikian dusun-dusun lain seperti dusun Kemuning sebagai daerah pertanian menghasilkan padi (beras) untuk makanan pokok serta sayuran.

Kebun menjadi penghasil buah kelapa, lada, cengkeh dan kopi selain pohon buah-buahan. Hasil panen buah kelapa per tiga bulan sekali sangat membantu pendapatan bagi kehidupan keluarga demikian dari hasil kopi,lada dan cengkeh. Sedangkan pohon buah-buahan hanya setahun sekali, bahkan kadang tidak tentu, dan biasanya pada saat panen harganya sangat murah, karena banyak penduduk di desa ini dan desa lainnya juga panen.

Sementara itu hutan bakau menjadi tempat mencari kepiting serta kayu untuk bahan bangunan rumah (kayu Nyirih) maupun kayu bakar. Potensi hutan bakau relatif banyak disekitar wilayah desa dan dimanfaatkan oleh masyarakat menjadi industri kayu arang.

Matrik Penggunaan Lahan, Potensi dan Permasalahan Desa  Batu Ampar di Kecamatan Batu Ampar

Matrik Penggunaan Lahan, Potensi dan Permasalahan Desa Batu Ampar di Kecamatan Batu Ampar

 Penggunaan Lahan Pemukiman Gunung / Hutan Kebun / Ladang Pemukiman Hutan Bakau
Jenis Tanaman Mangga, Pisang
Petai, Nangka
Durian, Sukun, Rambutan, Singkong

Rotan,Kayu Ara,
Pulai, Bambu,
Nangka hutan,
DukuManggis

Cengkeh, Lada,Lombok Padi, Sayuran Kelapa,KopiKakao,
Langsat,Rambutan, Durian, Rambai, Mangga
Bakau, Nyirih
Status Tanah Milik Pribadi Negara Milik Pribadi Milik Pribadi Negara
Kesuburan Tanah Subur Subur Subur Subur Subur
Masalah Kurang kesadaran gotong royong - Hama Tikus, Kera Bila hujan becek -
Potensi Tenaga kerja
Pasar, Industri
kayu arang
Nelayan
Sumber air gunung, material batu Lada, Cengkeh Kelapa (kopra), Kopi Kayu Bakau Daun Nipah, Kayu Nyirih

Sumber : Data Primer, 2013

10. Kalender Musim

Kalender musim dibahas bertujuan untuk mengetahui kegiatan rutin yang dilakukan masyarakat desa dalam periode waktu setahun. Dengan adanya pencatatan kalender musim ini maka setiap penduduk desa ataupun pihak luar dapat mengetahui kegiatan-kegiatan apa saja yang dilakukan bersama-sama di desa, termasuk kewaspadaan penanganan kejadian yang dapat menimpa wilayah desa. Informasi mengenai kalender musim dan kegiatan masyarakat digali dari ingatan dan pengetahuan berbagai kalangan masyarakat desa.
10.1. Kalender Musim di Desa Kubu
Hasil kajian kalender musim yang juga merupakan pola penggunaan waktu dalam tatanan kehidupan masyarakat desa Kubu dan informasi ini penting untuk menunjukkan hubungan antara keserasian penggunaan waktu dengan setiap langkah yang ada dalam proses pengembangan masyarakat. Penjelasan terkait kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam periode waktu setahun oleh masyarakat desa Kubu dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Kalender Musim di Desa Kubu Kecamatan Kubu, Kabupaten Kubu Raya

 Kegiatan Musiman Waktu / Bulan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Nelayan
Mencarai Ikan                        
Kepiting / Udang                        
Ikan Kurang               Panca Roba        
Bertani
Menebas                        
Membersihkan                        
Membibitkan                        
Menanam Padi                        
Memelihara                        
Panen                        
Kewaspadaan
Musim Sakit                ISPA      
Air Laut Pasang                        

Sumber : Data Primer, 2013

Diskusi dari kajian kalender musim, diperoleh penjelasan dari beberapa sumber dan tokok masyarakat bahwa penduduk setempat setiap tahunnya melakukan kebiasaan sebagaimana yang dilakukan oleh para orang tua terdahulu, diantaranya :
• Robo robo; yang dilaksanakan pada hari Rabu terakhir bulan Syafar.
• Tolak Bala; yang dilaksanakan 1-10 Muharam
• “Miteng Ta’ana” yaitu penentuan memberi tanda atau memeriksa lahan untuk berkebun/berladang.

10.2 Kalender Musim di Desa Batu Ampar

Hasil kajian kalender musim yang juga merupakan pola penggunaan waktu dalam tatanan kehidupan masyarakat desa Batu Ampar dan informasi ini penting untuk menunjukkan hubungan antara keserasian penggunaan waktu dengan setiap langkah yang ada dalam proses pengembangan masyarakat. Penjelasan terkait kegiatan-kegiatan yang dilakukan dalam periode waktu setahun oleh masyarakat desa Batu Ampar dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Kalender Musim di Desa Batu Ampar Kecamatan Batu Ampar Kabupaten Kubu Raya

 Kegiatan Musiman Waktu / Bulan
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12
Nelayan            
Cari Ikan          Tengiri / Tirus          
Julung Barat                         
Ikan Ketang                         
Cari Udang                        
Ikan Patin                         
Merawai                         
Cari Kepiting                         
Bertani            
Menebas                        
Menyemai                        
Menanam Padi                         
Memelihara                        
Panen Padi                        
Panen Kelapa                        
Musim Buah                        
Kewaspadaan                        
Banjir 3 Tahunan                        
Demam (DBD)                        

Sumber : Data Primer, 2013

Diskusi dari kajian kalender musim, diperoleh penjelasan dari beberapa sumber dan tokok masyarakat bahwa penduduk setempat setiap tahunnya melakukan kegiatan kebiasaan sebagaimana yang dilakukan para orang tua terdahulu diantaranya :

  • Masyarakat desa Batu Ampar kesehariannya hidup dari Nelayan Laut Selat pendapatannya berasal dari mencari ikan. Musim mencari ikan bagi masyarakat Batu Ampar dilakukan di sepanjang tahun, tetapi pendapatan yang lebih besar didapat pada bulan Maret s/d Juli dan diluar bulan tersebut ikan agak kurang dan masyarakat setempat menyebutnya dengan istilah “Julung Barat”.
  • Ada beberapa tanda-tanda Nelayan dalam melihat pontensi ikan di laut yaitu dengan memperhatikan kehidupan burung di laut, apabila banyak burung Camar diatas perairan laut maka banyak anak ikan dan apabila banyak burung Elang maka banyak ikan besar.
  • Fenomena banjir air laut sebagai tindakan kewaspadaan oleh penduduk Batu Ampar terjadi 3 tahun sekali dan terakhir terjadi pada tahun 2009, biasanya terjadi pada bulan Desember. Tanda-tanda akan datangnya banjir air laut biasanya didahului oleh angin ribut.

No Comments

Leave a Comment

You must be logged in to post a comment.