• Mangrove Silviculture Procedure
 TAHAPAN KEGIATAN  Waktu
PERENCANAAN
Step1-1

Step 1. Penataan Areal Kerja (PAK)
Penataan batas areal kerja, diperioritas memakai batas alam, seperti: sungai dan alur pasang surut yang banyak terdapat di dalam areal kerja

ET-3
 a.2

Step 2. Inventarisasi Tegakan Sebelum Penebangan (ITSP)
Dilaksanakan 2 tahun sebelum penebangan dengan sistematic streep sampling dan intensitas sampling 5 %

 ET-2
 silvi3 Step 3. Pembukaan Wilayah Hutan (PWH)
PWH hanya untuk penyaradan berupa jalan kayu/ongkak, sementara untuk angkutan menggunakan sungai dan alur pasang surut yang banyak terdapat di areal kerja atau dibuat kanal bila kondisi terpaksa
 ET-1
PENEBANGAN
 B.1 Step 4. Penebangan
Penebangan dimulai dengan menebang pohon, pembagian batang, pengulitan, penyaradan dengan dengan menggunakan ongkak(kayu) dan mengumpulkannya di TPn sampai dengan pemuatan ke ponton
 ET
PEMBINAAN HUTAN
 C.1

Step 5. Survey Areal Bekas Tebangan
Dilakukan untuk mengetahui sebaran anakan permudaan alam

 ET+1
 pengayaan 2

Step 6. Pengadaan Bibit, penanaman pengayaan dan rehabilitasi
Pengadaan bibit dilakukan untuk persiapan kegiatan pengayaan dan rehabilitasi

 ET+2
 step7

Step 7. Pemeliharaan Tanaman
Berupa kegiatan penyulaman tanaman yang mati dan membebaskan tanaman dari tanaman penganggu.

 ET+2&3
  Step 8. Penjarangan Pertama dan Kedua
Dilakukan agar pohon lebih cepat tumbuh karena berkurangnya persaingan
 ET+10&15

Sistem silvikultur mangrove ditetapkan tahun 1978 melalui Surat Keputusan Direktur Jenderal Kehutanan No. 60 tahun 1978 yakni sistem silvikultur hutan payau (seed trees). Satu kali daur diperlukan waktu selama 20 tahun, Hal ini diatur dalam Permenhut No. P.11 / Menhut-II / 2009, tanggal 9 Februari 2009 tentang sistem silvikultur dalam areal ijin UPHHK pada Hutan Produksi.

Prinsip-prinsip Dasar Sistim Silvikultur Hutan Payau

  1. Siklus tebangan 20 ( dua puluh )  tahun.
  2. Tebangan boleh dilakukan, bilamana :
    >> Dapat meninggalkan pohon induk dengan diameter ± 20 cm sebanyak 40 phn/ha dan tersebar merata, atau
    >> Terdapat anakan tingkat semai berjumlah 2.500 anakan/ha.
  3. Tebangan boleh dilakukan pada pohon dengan diameter ≥10 cm.
  4. Penebangan dengan meninggalkan jalur pelindung :
    >> 50 m dari tepi pantai,
    >> 10 m dari tepi sungai pasang surut, alur air atau jalan raya.
  5. Cruising RKT dilakukan dengan sistem strip sampling, intensitas 5 %.
  6. Luas Tempat Pengumpulan Kayu (Tpn) maksimum 1 % dari luas areal kerja.
  7. Penjarangan boleh dilakukan 10-15 tahun setelah penebangan.

 

 


Related posts:

No Comments

Leave a Comment

You must be logged in to post a comment.