• Sejarah Pengelolaan Areal Kerja

Areal kerja ekosistem mangrove yang dikelola saat ini merupakan areal bekas tebangan dengan sejarah pemanfaatan sebagai berikut:

  1. Kronologis Kepemilikan Konsesi
    Pemanfaatan kelompok hutan S. Radak – S. Sepada, diawali dengan terbitnya SK Menteri Pertanian Tahun 1969 tentang pemberian HPH kepada PT. Kalimantan Sari seluas ± 229.000 ha dan berakhir masa perijinannya pada tahun 1989. Pada tahun 1994 dilanjutkan pengelolaannya oleh PT. Inhutani II dalam bentuk ijin Hak Pengelolaan Hutan Tanaman Industry Tebang Tanam Dalam Jalur dan berakhir hak pengelolaannya pada tahun 2002 melalui mencabutan oleh Menteri Kehutanan.
    Dari keseluruhan areal hutan yang dicabut seluas 229.000 ha, terdiri dari 2 tipe hutan : Tipe hutan rawa gambut dan hutan mangrove. Seluas ± 30.000 ha diantaranya merupakan tipe hutan mangrove, sedangkan sisanya seluas ± 199.000 ha merupakan tipe hutan rawa gambut.
    Khusus areal dengan tipe hutan mangrove, pada tahun 2006 diajukan oleh PT. Kandelia Alam sebagai areal Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu Pada Hutan Alam.
  2. Sejarah Penataan, pemanfaatan dan pembinaan hutan
    Berdasarkan penelusuran dokumen PT. Kalimantan Sari dan PT. Inhutani II yang dulu pernah mengelola areal tersebut, khusus pada lokasi yang saat ini dikelola oleh PT. Kandelia Alam (tipe mangrove), areal bekas tebangan tidak teregister dengan baik, sehingga sejarah penataan, pemanfaatan dan pembinaan hutan secara administratif sulit diketahui.
    Namun demikian, berdasarkan hasil inventarisasi hutan menyeluruh berkala dan pengamatan pada seluruh areal kerja, didapatkan hal-hal berikut:
    - Masih ditemukan virgin forest pada daerah ± 500 m dari tepi sungai dan atau alur pasang surut.
    - Penataan dilakukan berdasarkan batas-batas alam, seperti sungai pasang surut dan alur air pasang surut.
    Lokasi bekas tebangan ± 95 % sudah ditutupi oleh permudaan dengan jenis bakau (R. apiculata) dengan diameter ± 20 cm. Hal ini disebabkan karena letak areal hutan mangrove yang terlindungi (berada di teluk dan terlindungi) atau aman fisik dan dengan lumpur cukup dalam, sehingga regenerasi alami areal bekas tebangan cukup bagus dan cepat, sehingga dapat mencapai hutan klimaks.
  3. Sejarah Perlindungan Hutan
    Sesuai dengan kondisi ekosistem mangrove yang mendominasi areal kerja IUPHHK dalam hutan alam dimana saat air laut pasang terjadi pengenangan diseluruh areal kerja dan dalam kondisi surut baru kering, maka kejadian kebakaran, pengembalaan, perladangan berpindah-pindah / menetap, peyerobotan tanah dan begitu juga pembangunan tambak legal dan atau ilegal tidak pernah terjadi dalam areal kerja.
    Pemerintah daerah atau Bupati tidak pernah mengeluarkan izin HPHH, IPK atau izin lainnya untuk memanfaatkan kayu yang ada dalam areal kerja. Hal ini disebabkan karena kayu mangrove mempunyai pasar yang sangat terbatas.
    Sebelum beroperasinya PT. Kandelia Alam, dan melihat tanda-tanda yang ada dilapangan, penjarahan hutan pernah terjadi, namun tidak dalam luasan yang besar. Kayu yang diambil oleh masyarakat setempat adalah jenis kayu tumu (Bruguiera gymnorrhiza) dan bakau (Rhizophora apiculata) untuk piling dan diekspor ke Malaysia. Sejak beroperasinya perusahaan kegiatan penebangan liar sudah tidak terlihat lagi.