• Step 4. Penebangan

Mengingat kondisi areal kerja merupakan hutan mangrove dan sistim silvikultur yang akan digunakan adalah Sistim Silvikultur Hutan Payau ( Sistem Pohon Induk ), maka kegiatan penebangan akan dilakukan sebagai berikut :

  1. Penebangan akan dilakukan terhadap pohon-pohon dengan diameter ?10 cm, dengan meninggalkan pohon induk (yang telah diberi tanda) sebanyak 40 pohon/ha yang tersebar merata.
  2. Kegiatan penebangan dan pembagian batang dilakukan dengan chainsaw, sedang pengulitan secara manual di blok tebangan.
  3. Penyaradan menggunakan ongkak (manual)/kuda-kuda ditarik oleh tenaga manusia.
  4. Pemuatan ke atas ponton dilakukan dengan 2 cara. Untuk sungai pasut/alur air pasut yang lebar digunakan crane, sedang sungai pasut/alur air pasut sempit dilakukan oleh manusia
  5. Pengangkutan dilakukan dengan cara menarik ponton dengan menggunakan pompong/speedboat dari sungai pasut/alur air pasut kecil ke sungai pasut/alur air pasut besar dan kemudian dilanjutkan dengan menariknya dengan tug boat dan atau langsung memuat ke atas ponton besar untuk selanjutnya diangkut ke lokasi industri pembeli.

Cara Penebangan

Penebangan dilaksanakan oleh seorang chainsawman, pada petak- petak kerja dalam blok RKT yang telah disahkan.

Regu tebang terdiri dari operator chainsaw dan regu tarik kayu/sarad. Operator chainsaw bertugas melakukan tebangan pohon dan pembagian batang, sedang regu tarik bertugas melakukan kupas kulit, sarad dan tumpuk di Tpn, sedangkan pemuatan dapat dilakukan oleh regu sarad dan atau regu khusus untuk muat ke atas ponton. Satu orang operator chainsaw melayani 3 (tiga) regu tarik/sarad, sedang 1 (satu) regu tarik umumnya terdiri dari ± 8 (delapan) orang.

Penebangan pohon dimulai dengan membuat arah rebah dan takik balas dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut:

  1. Membuat arah rebah pohon yang tepat :
    a). Diusahakan agar arah rebah diarahkan pada tempat-tempat yang sedikit mungkin merusak pohon induk dan permudaan jenis komersil lainnya.
    b). Diarahkan searah dengan jalan “kuda-kuda” (ongkak) atau jalan rel dengan maksud untuk memudahkan penyaradan kayu ke tempat pengumpulan.
  2. Diupayakan agar takik rebah serendah mungkin untuk mengurangi limbah pembalakan
  3. Dalam pelaksanaan kegiatan penebangan, keselamatan para pekerja harus diutamakan dengan memperhatikan :
    • Jarak antara masing-masing regu tebang harus berjauhan.
    • Para pekerja diharuskan memakai topi pengaman (helm)

Cara Penyaradan

Sebelum kayu disarad, kayu yang telah dikuliti dan dipotong-potong dengan panjang 2 m dipikul oleh regu kerja ke pinggir-pinggir jalan ongkak/kuda-kuda, selanjutnya dimuat ke alat angkut yang disebut ”ongkak”.
Ongkak adalah alat angkut semacam kereta terbuat dari kayu nibung dengan kapasitas ± 0,5 m3, dtarik oleh 2 orang tenaga manusia, berjalan di atas bantalan rel yang terbuat dari kayu ukuran tiang. Penyaradan dilakukan langsung menuju ke Tempat Pengumpulan Kayu (Tpn) yang terletak di tepi-tepi sungai pasut/alur air pasut.

Cara Pengangkutan

Setelah kayu sampai TPn, selanjutnya ditumpuk, diukur volumenya dan dibuatkan LHPnya. Setelah ULHP disahkan dan DR & PSDH telah dibayar, kayu dari TPn baru diangkut menuju industri dengan menggunakan pontoon atau tongkang.

 

teb12

teb08

silvi4

teb4

silvi Penyaradan

teb7

teb09

teb13


Related posts:

No Comments

Leave a Comment

You must be logged in to post a comment.